Archive for the ‘ ASKEB1 ’ Category

Diare


Diare

Diare muncul bila kemampuan kontraksi pencernaan bayi berkurang, kotoran bayi akan lebih encer dari biasanya. Bila bayi buang air besar lebih dari 6-8 kali dalam satu hari, maka dapat disimpulkan bahwa bayi mengalami diare. Kadang sulit untuk membedakan apakah bayi menderita diare ringan atau tidak, karena kotoran bayi biasanya lunak dan sedikit encer. Bila frekuensi buang air besar bayi bertambah dan disertai dengan penambahan tingkat keenceran pada kotorannya, maka bayi mungkin menderita diare.

 

Apakah Penyebab Diare?

Diare kadang muncul apabila bagian dalam usus terluka, nutrisi tidak dapat terserap secara maksimal dan kotoran menjadi lebih encer.
Diare pada bayi dan balita biasanya terjadi karena virus – rotavirus adalah salah satu diantaranya.
Kerusakan usus yang menyebabkan terjadinya diare juga dapat terjadi karena adanya bakteri, infeksi parasit, atau keracunan makanan. Makanan, alergi susu, dan efek samping obat – semacam antibiotik – juga dapat menyebabkan diare

Apakah Diare Berbahaya?

Diare dapat menjadi hal yang berbahaya karena pada saat bayi mengalami diare, dia akan kehilangan banyak cairan dan menyebabkan dehidrasi. Apakah dehidrasi itu ? Tubuh membutuhkan air & elektrolit dalam jumlah tepat untuk membantu fungsi-fungsi vital tubuh dengan benar. Diare dapat menyebabkan hilangnya cairan & elektrolit penting dari tubuh. Ketika cairan yg hilang melalui tinja, tidak digantikan, maka diare dapat menyebabkan dehidrasi (rendahnya cairan dalam tubuh lebih rendah dari kadar normal). Dehidrasi dapat menyebabkan komplikasi yang membahayakan nyawa seseorang, khususnya bayi, anak kecil dan mereka yg lanjut usia. Mencegah Dehidrasi Diare merupakan masalah umum yang biasanya akan pulih dengan sendirinya. Menjaga agar tidak dehidrasi adalah satu-satunya hal yang sangat diperlukan. • Perbanyaklah minum untuk menggantikan cairan dalam tubuh yg hilang. Terutama cairan rehidrasi oral (minuman pengganti cairan & elektrolit) yang tersedia di toko obat. Cairan ini sangat direkomendasikan bagi bayi & anak-anak. • Hindari minuman yg mengandung kafein, seperti kopi, teh dan beberapa minuman soft drink, dan alkohol. • Obat-obatan anti-diare biasanya TIDAK DIPERLUKAN dan jika dikonsumsi harus dalam pengawasan dokter. Obat-obatan tsb dapat berbahaya, terutama jika oleh anak-anak dan orang yg lanjut usia.

 

Aapakah Gejala-Gejala terjadinya Dehidrasi?

Bila salah satu gejala dibawah ini dialami oleh bayi anda, maka anda sebaiknya berkonsultasi dengan ahli kesehatan anda:
Gejala dehidrasi ringan – sedang:

  1. Aktivitas bermain berkurang
  2. Frekuensi buang air kecil berkurang (kurang dari 6 kali dalam sehari)
  3. Mulut kering
  4. Air mata sedikit saat menangis
  5. Pada balita atau anak-anak, ada noda hitam lunak di kepala

 

Gejala dehidrasi berat:

  1. Gelisah
  2. Tidur berlebihan
  3. Mata kehitaman
  4. Badan bayi dingin
  5. Kulit berkerut
  6. Tidak buang air kecil selama beberapa jam

 

Hubungi dokter jika diare dibarengi / muncul : • Tanda-tanda dehidrasi berat • Ada darah di tinja atau tinja berwarna hitam • Muntah terus-menerus tapi tidak ada cairan yg masuk melalui mulut • Rasa sakit hebat di daerah sekitar perut • Demam tinggi terus-menerus • Tidak ada kemajuan lebih dari 24 jam atau diare makin parah lebih dari 2 atau 4 hari Hubungi dokter jika anda mencurigai anda atau orang lain mengalami dehidrasi berat. Dehidrasi berat terkadang perlu penanganan dengan cairan intravenous (cairan yang dimasukkan langsung melalui pembuluh darah). Jangan bergantung hanya pada cairan melalui mulut untuk penanganan dehidrasi berat.

Apakah Diare dapat diobati?

Diare yang disebabkan karena virus tidak dapat diobati. Antibiotik hanya berfungsi untuk beberapa jenis bakteri atau infeksi parasit.
Berkonsultasilah dengan ahli kesehatan atau dokter anda sebelum memberikan obat.
Obat anti diare tidak dianjurkan bagi anak-anak yang berusia kurang dari dua tahun. Obat anti diare tersebut sebaiknya diberikan kepada anak-anak setelah berkonsultasi dengan dokter – meskipun bagi anak yang berusia lebih dari dua tahun

 

Apakah Bayi Masih perlu mengkonsumsi Makanan Padat Selama Diare?

Berikanlah bayi anda makanan seperti biasanya, kecuali bila ahli kesehatan atau dokter anda menyarankan hal yang sebaliknya.
Hindarilah pemberian soft-drink, jus buah berkonsentrat, dan jenis minuman lain yang mengandung banyak gula, karena hal ini justru akan memperparah diare. Susu rebus, yang mengandung garam dan mineral juga sebaiknya dihindari.
Makanan yang sebaiknya diberikan adalah: miju, daging atau ikan, telur, sayur matang, pisang, dan sereal rebus.
Anak-anak dapat menerima makanan dengan porsi sedikit tetapi teratur dibandingkan dengan makanan yang sekali makan dengan porsi besar.

Apa yang sebaiknya diminum oleh bayi selama diare?

Anda sebaiknya berkonsultasi dengan ahli kesehatan anda. Bila anda menyusui, ahli kesehatan anda akan menyarankan untuk tetap menyusui seperti biasa.
Bila anda memberikan susu formula, ahli kesehatan akan menyarankan penggantian susu formula untuk sementara waktu. Diare menghancurkan enzim yang dibutuhkan untuk mencerna laktosa dalam susu formula.Formula kacang kedelai atau susu formula yang bebas laktosa sebaiknya diberikan kepada bayi agar mereka lebih mudah mencerna.
Ahli kesehatan anda mungkin juga akan menyarankan pemberian oral rehydration solution (ORS) atau disebut juga oral electrolyte solution. ORS membantu menggantikan air, garam, dan potassium yang hilang selama diare

 

Berapa Lamakah diare berlangsung?

Diare biasanya terjadi selama 3-7 hari. Banyaknya kotoran yang encer sebaiknya diperhatikan untuk mencegah bayi mengalami dehidrasi karena kehilangan cairan.

Bagaimana mencegah terjadinya Diare?

Mencuci tangan setelah dari toilet atau setelah mengganti popok dan juga sebelum menyiapkan makanan. Tidak mengkonsumsi susu yang tidak dipasteriusasi atau makanan yang mungkin mengandung bakteri. Jangan memberikan minuman atau jus manis terlalu banyak.

Caput Succedaneum


Definition

Caput succedaneum is a diffuse swelling of the scalp in a newborn caused by pressure from the uterus or vaginal wall during a head-first (vertex) delivery.

Images:

Alternative Names

Caput

Causes, incidence, and risk factors

A caput succedaneum is caused by the mechanical trauma of the initial portion of scalp pushing through a narrowed cervix. The swelling may be on any portion of the scalp, may cross the midline (as opposed to a cephalhematoma), and may be discolored because of slight bleeding in the area. There may also be molding of the head, which is common in association with a caput succedaneum.

Symptoms

  • Soft, puffy swelling of the scalp in a newborn infant
  • Swelling may or may not have some degree of bruising
  • Swelling may extend over the midline of the scalp
  • Most often seen on the portion of the head which presented first
  • May be associated with increased molding of the head

Signs and tests

Physical examination confirms that the swelling is a caput succedaneum. No testing is necessary.

Treatment

No treatment is necessary, and it usually heals spontaneously within a few days.

Expectations (prognosis)

Complete recovery can be expected, with the scalp regaining its normal contour.

Complications

Jaundice can result as the bruise breaks down into bilirubin.

Calling your health care provider

This condition is usually noticed immediately after delivery of the child, so no call is necessary — unless you have additional questions.

Prevention

A caput succedaneum is more likely to form during a prolonged or difficult delivery. This is especially true after the membranes have ruptured, thus removing the protective cushion of the amniotic sac. Vacuum extraction can also increase the chances of a caput succedaneum.

However, a caput succedaneum is sometimes identified by prenatal ultrasound even before labor or delivery begins. It has been found as early as 31 weeks of gestation. More often than not, this is associated with either premature rupture of the membranes or too little amniotic fluid (oligohydramnios). All other things being equal, the longer the membranes are intact, the less likely a caput is to form.

Nevertheless, a caput succedaneum can form before or during birth even in the absence of any identifiable risk factor. Good prenatal care and management of labor and delivery can reduce the chances of this minor problem, but the formation of a caput succedaneum is often unpredictable and unavoidable.

References

Stoll, BJ, Kliegman, RM. Nervous System Disorders. In: Behrman, RE., Kliegman, RM, Jenson, HB, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed., Philadelphia, PA: Saunders; 2004:562

terjemah bebas:

definisi

caput succedaneum memencarkan bengkak kulit dan rambut kepala di disebabkan oleh tekanan dari rahim baru lahir atau vaginal dinding selama head-first (pengiriman puncak).

nama alternatif

caput

menyebabkan, berjangkit, dan faktor resiko

caput succedaneum dilantaran oleh mekanis trauma bagian awal kulit dan rambut kepala meneruskan membatasi tengkuk. bengkak mungkin di beberapa bagian kulit dan rambut kepala, mungkin arungi midline sebagai lawan cephalhematoma, dan mungkin menycolored karena pendarahan tipis di daerah. di sana mungkin juga membentuk kepala, yang biasa bersama-sama caput succedaneum.

gejala

” halus, kulit dan rambut kepala di bayi baru lahir

” bengkak mungkin atau mungkin tidak punya derajat dari bruising

” bengkak mungkin memperluas melalui midline kulit dan rambut kepala

” paling sering melihat di bagian kepala yang menyajikan pertama

” mungkin berasosiasi dengan meningkat membentuk kepala

tanda dan percobaan

ujian fisik menegaskan bahwa bengkak caput succedaneum. tidak ujian perlu.

pengurusan

tidak pengurusan perlu, dan ini biasanya sembuh secara spontan dalam beberapa hari.

harapan (ramalan)

genapkan pemulihan dapat menyangka, dengan kulit dan rambut kepala mendapat kembali garis bentuk normal nya.

keruwetan

penyakit kuning dapat hasil memar sebagai memerinci ke bilirubin.

memanggil pelayanan kesehatan kamu provider

kondisi ini biasanya mencatat segera setelah pengiriman anak, tidak memanggil perlu – kalau kamu punya pertanyaan tambahan.

cegahan

caput succedaneum banyak mungkin ke bentuk selama berlangsung lama atau pengiriman sulit. ini adalah khususnya benar setelah membran telah memecahkan, jadi memindahkan bantal alas duduk protektif amniotic kantung. keturunan hampa udara dapat juga menambah kesempatan dari caput succedaneum.

akan tetapi, caput succedaneum kadang-kadang mengenali oleh sebelum melahirkan ultrasound bahkan sebelum buruh atau pengiriman mulai. ini telah menemukan sejak dulu 31 minggu kehamilan. banyak sering daripada tidak, ini adalah berasosiasi dengan salah satu perpecahan prematur membran atau terlalu kecil amniotic cair (oligohydramnio. semua yang lain tetap sama, lebih panjang membran utuh, semakin sedikit mungkin caput ke bentuk.

meskipun demikian, caput succedaneum dapat bentuk sebelum atau selama kelahiran bahkan di absen faktor resiko bisa diidentifikasi. sebelum melahirkan baik merawat dan manajemen buruh dan pengiriman dapat mereduksi kesempatan dari persoalan kecil ini, tetapi pembentukan caput succedaneum sering tak dapat diramalkan dan tak terelakkan.

acuan

Stoll, BJ, Kliegman, RM. Nervous System Disorders. In: Behrman, RE., Kliegman, RM, Jenson, HB, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed., Philadelphia, PA: Saunders; 2004:562

MENGENAL TANDA LAHIR BAYI


Sesuai dengan sebutannya tanda lahir, maka keberadaannya di tubuh bayi sudah ada semenjak ia lahir. Berbahayakah tanda lahir ini dan apakah bisa menghilang saat si kecil beranjak dewasa kelak?

Oh untung saja, biasanya tanda lahir tidaklah berbahaya dan umumnya bisa hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari meski ada yang baru menghilang dalam hitungan bulan atau tahun. Hingga kini memang belum ada penjelasan lebih lanjut perihal penyebab kemunculan tanda lahir ini dan mengenai perbedaan rentang waktu menghilangnya.

Lebih lengkapnya, kali ini dr. Anies Nuringtyas, Sp.A., dari RSIA Dokter Adam Talib, Cibitung menjabarkan mengenai berbagai jenis tanda lahir pada bayi untuk menjawab keingintahuan orangtua.

Selamat membaca.

Utami Sri Rahayu. DIPERAGAKAN MODEL, FOTO: IMAN/nakita

1. Hemangioma

Hemangioma adalah sekelompok pembuluh darah yang tidak ikut aktif dalam peredaran darah umum dan ia muncul di permukaan kulit. Meski bisa tumbuh membesar, hemangioma bukanlah tumor. Tanda lahir ini dapat membesar dua kali ukuran semula, tetapi setelah itu ukurannya akan stabil, lalu warnanya menipis (tampak lebih muda), akhirnya menghilang dengan sendirinya.

Kelainan pembuluh darah yang tidak berbahaya ini umumnya hanya timbul di satu tempat, seperti di wilayah leher atau kepala. Namun pada beberapa kasus (yang jarang terjadi) dapat pula timbul di beberapa bagian tubuh sekaligus.

Hemangioma sendiri dikenal dalam berbagai bentuk:

* Strawberry Hemangioma

Tanda lahir yang tampak di permukaan kulit ini memiliki aneka bentuk. Ada yang berukuran kecil mirip buah ceri atau stroberi sehingga akrab disebut cherry angioma, ada juga yang berukuran lebih kecil sekecil titik dan lebih besar hingga seukuran alas gelas.

Warnanya merah cerah, menonjol serta lunak dan umumnya muncul di minggu pertama pascalahir. Tanda stroberi ini awalnya memang akan membesar, tapi akhirnya akan memudar menjadi keabu-abuan hingga hilang sama sekali ketika anak memasuki usia sekolah.

Tanda lahir yang begitu umum ini (kemungkinan 1 dari 10 bayi memilikinya) biasanya akan dibiarkan saja oleh dokter. Tindakan koreksi hanya diperlukan bila hemangioma sudah mengganggu—seperti mengganggu fungsi mulut dan pencernaan atau mengganggu keindahan penampilan—yakni dengan obat-obatan yang disuntikkan atau dengan laser bahkan bila diperlukan lewat bedah plastik jika meninggalkan jaringan parut. Mengenai kapan tindakan itu bisa dilakukan amat tergantung pada kasus karena perkembangan hemangioma pada setiap bayi tidak sama. Ada yang setahun sudah membesar, tapi ada juga yang malah tidak membesar. Hal lain yang perlu diketahui, tanda lahir ini dapat mengalami perdarahan bila tergores atau terbentur. Namun ini tak perlu dikhawatirkan. Untuk menghentikannya, tekanlah dengan kasa steril bagian yang berdarah tersebut.

* Cavernous Hemangioma

Tanda lahir yang kerap muncul bersama strawberry hemangioma ini terbentuk dari pembuluh darah yang lebih besar dan lebih matang, serta menyangkut lapisan kulit yang lebih dalam. Ada yang tampak rata, ada juga yang menonjol, berwarna kebiruan atau merah kebiruan, dengan pinggiran yang kurang nyata dibandingkan jenis stroberi. Tanda lahir jenis ini bisa tampak sejak lahir dan akan menghilang ketika memasuki masa pubertas, tanpa meninggalkan bekas. Bila dirasa mengganggu, cara pengobatan dan terapinya sama dengan strawberry hemangioma.

Salmon Patches

Bentuknya berupa bercak berwarna merah muda yang tidak menonjol pada permukaan kulit (biasanya terdapat di wajah di antara mata atau di leher). Ketika menangis, tanda lahir ini akan terlihat lebih jelas dan merah. Hemangioma ini tidak berbahaya dan akan menghilang dalam hitungan bulan meski ada yang tahunan. Khusus di bagian leher umumnya bertahan lebih lama.

2. Mongolian Spots

Tanda lahir yang tergolong normal dan tidak berbahaya ini dialami hampir semua bayi, terutama anak Asia Timur. Bercak mongol adalah terperangkapnya sel melanosit (pigmen) di bagian belakang tubuh bayi pada saat pembentukan sistem saraf.

Bercak ini ada yang berwarna biru, biru hitam, atau abu-abu dengan batas tegas, mirip tanda lebam. Ukurannya bervariasi dari kecil atau dapat pula sangat besar. Umumnya terdapat pada sisi punggung bawah, juga paha belakang, kaki, punggung atas dan bahu. Bercak ini biasanya memudar pada tahun pertama walaupun sering juga menetap hingga dewasa.

3. Bercak cafe’ au lait

Bintik berwarna cokelat muda atau tua seperti kopi susu. Bentuknya tidak teratur, mendatar pada kulit dengan ukuran sekitar 3-5 mm. Lokasinya bisa terdapat di seluruh tubuh. Bila hanya satu bercak, umumnya tidak memerlukan penanganan khusus. Yang patut diwaspadai jika terdapat 5 atau lebih tanda lahir ini dengan diameter lebih dari 5 mm. Segera konsultasikan pada dokter karena kehadirannya bisa menjadi pertanda suatu penyakit genetik.

4. Nevus congenital

Berupa tahi lalat di kepala atau di bagian badan yang muncul semenjak lahir. Ukurannya paling kecil sekitar 1 cm hingga lebih dari 20 cm. Berwarna kecokelatan sampai hitam dan sebagian ada yang berambut. Bila semakin membesar patut diwaspadai sebagai pertanda awal keganasan. Untuk itu segera konsultasikan pada dokter.

5. Akrosianosis

Tanda lahir yang ditemui pada bagian jari tangan dan kaki ini terlihat di permukaan kulit berupa bercak kemerahan. Paling sering terjadi pada bayi perempuan. Bila dicermati, ketika bayi menangis atau sedang kedinginan, warna bercak kemerahan tersebut akan berubah menjadi kebiruan dan tampak lebih jelas. Tanda lahir ini tergolong tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya dalam hitungan bulan.

6. Kutis Marmorata

Tampak seperti jaring laba-laba berwarna kemerahan di permukaan kulit. Umumnya terdapat di bagian kaki.

Source : http://www.tabloid-nakita.com/

Hemangioma


Deskripsi
Hemangioma merupakan tumor jinak yang terjadi pada masa kanak-kanak. Tumor ini sering disebut sebagai tanda lahir. Tumor ini terbentuk akibat pembuluh darah yangtumbuh tidak sempurna semasa masih janin. Tumor ini muncul pada saat lahir. Namun ada pula yang timbul setelah beberapa bula bayi dilahirkan.

Gejala
Tanda merah seperti bunga karang lebar antara 5-7 cm. Tanda ini perlahan-lahan akan hilag.

Perawatan
Tumor jinak ini terkadang bisa hilang, bisa juga tidak. Jika tidak hilang sampai usia tertentu maka perlu diperiksakan ke dokter kulit. Jika tumor itu tidak hilang maka akan disembuhkan dengan pembedahan laser.

Sumber: medlineplus dan mayoclinic.

hemangioma


strawberry_hemangioma-edit.jpg

Tanda lahir atau naevus adalah tanda berwarna yang ditemukan pada kulit bayi yang baru lahir. Tanda ini bisa terjadi dalam berbagai warna seperti biru, biru-abu-abu, cokelat, cokelat, hitam, pink, putih, merah dan ungu. Defenisi medis menyebutkan bahwa tanda lahir merupakan kelainan kulit pada anak baru lahir (neonatus) dimana satu atau lebih komponen normal kulit dijumpai dalam jumlah berlebih per unit area ; dapat berupa pembuluh darah, pembuluh limfa, sel pigmen, folikel rambut, kelenjar keringat, epidermis, kolagen, elastin atau komponen kulit lainnya. Disamping itu, istilah nevus yang sering disamakan dengan tahi lalat juga sering digolongkan sebagai tanda lahir.

Penyebab Tanda Lahir
Penyebab tanda lahir belum terbukti oleh ilmu pengetahuan. Banyak ahli berpendapat bahwa tanda lahir diwarisi dari orang tua atau anggota keluarga lainnya. Alasan lain yang diberikan adalah karena pertumbuhan pembuluh darah yang berlebihan. Tetapi ada juga tentang cerita rakyat dan mitos yang terkait dengan tanda lahir tetapi tidak satupun dari mereka telah terbukti untuk menjelaskan penyebab tanda lahir. Beberapa mitos yang tanda lahir disebabkan ketika wanita hamil melihat sesuatu yang aneh atau dia mengalami banyak ketakutan. Terjadinya tanda lahir lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pada laki-laki.

Jenis-jenis tanda lahir

1. Hemangioma
Hemangioma adalah sekelompok pembuluh darah yang tidak ikut aktif dalam peredaran darah umum dan ia muncul di permukaan kulit. Meski bisa tumbuh membesar, hemangioma bukanlah tumor. Tanda lahir ini dapat membesar dua kali ukuran semula, tetapi setelah itu ukurannya akan stabil, lalu warnanya menipis (tampak lebih muda), akhirnya menghilang dengan sendirinya. Tanda lahir ini lebih sering muncul pada anak perempuan dibanding dengan anak laki-laki dan umumnya muncul pada ras kaukasia. Kelainan pembuluh darah yang tidak berbahaya ini umumnya hanya timbul di satu tempat, seperti di wilayah leher atau kepala. Namun pada beberapa kasus (yang jarang terjadi) dapat pula timbul di beberapa bagian tubuh sekaligus.

Hemangioma sendiri dikenal dalam berbagai bentuk:
Strawberry Hemangioma
Tanda lahir yang tampak di permukaan kulit ini memiliki aneka bentuk. Ada yang berukuran kecil mirip buah ceri atau stroberi sehingga akrab disebut cherry angioma, ada juga yang berukuran lebih kecil sekecil titik dan lebih besar hingga seukuran alas gelas. Warnanya merah cerah, menonjol serta lunak dan umumnya muncul di minggu pertama pascalahir. Tanda stroberi ini awalnya memang akan membesar, tapi akhirnya akan memudar menjadi keabu-abuan hingga hilang sama sekali ketika anak memasuki usia sekolah.

Tanda lahir yang begitu umum ini (kemungkinan 1 dari 10 bayi memilikinya) biasanya akan dibiarkan saja oleh dokter. Tindakan koreksi hanya diperlukan bila hemangioma sudah mengganggu—seperti mengganggu fungsi mulut dan pencernaan atau mengganggu keindahan penampilan—yakni dengan obat-obatan yang disuntikkan atau dengan laser bahkan bila diperlukan lewat bedah plastik jika meninggalkan jaringan parut. Mengenai kapan tindakan itu bisa dilakukan amat tergantung pada kasus karena perkembangan hemangioma pada setiap bayi tidak sama. Ada yang setahun sudah membesar, tapi ada juga yang malah tidak membesar. Hal lain yang perlu diketahui, tanda lahir ini dapat mengalami perdarahan bila tergores atau terbentur. Namun ini tak perlu dikhawatirkan. Untuk menghentikannya, tekanlah dengan kasa steril bagian yang berdarah tersebut.

Cavernous Hemangioma


Tanda lahir yang kerap muncul bersama strawberry hemangioma ini terbentuk dari pembuluh darah yang lebih besar dan lebih matang, serta menyangkut lapisan kulit yang lebih dalam. Ada yang tampak rata, ada juga yang menonjol, berwarna kebiruan atau merah kebiruan, dengan pinggiran yang kurang nyata dibandingkan jenis stroberi. Tanda lahir jenis ini bisa tampak sejak lahir dan akan menghilang ketika memasuki masa pubertas, tanpa meninggalkan bekas. Bila dirasa mengganggu, cara pengobatan dan terapinya sama dengan strawberry hemangioma.

Salmon Patches


Bentuknya berupa bercak berwarna merah muda yang tidak menonjol pada permukaan kulit (biasanya terdapat di wajah di antara mata atau di leher). Ketika menangis, tanda lahir ini akan terlihat lebih jelas dan merah. Hemangioma ini tidak berbahaya dan akan menghilang dalam hitungan bulan meski ada yang tahunan. Khusus di bagian leher umumnya bertahan lebih lama.

2. Mongolian Spots


Tanda lahir yang tergolong normal dan tidak berbahaya ini dialami hampir semua bayi, terutama anak Asia Timur dan turunan kulit hitam (Afrika). Bercak mongol adalah terperangkapnya sel melanosit (pigmen) di bagian belakang tubuh bayi pada saat pembentukan sistem saraf.Bercak ini ada yang berwarna biru, biru hitam, atau abu-abu dengan batas tegas, mirip tanda lebam. Ukurannya bervariasi dari kecil atau dapat pula sangat besar. Umumnya terdapat pada sisi punggung bawah, juga paha belakang, kaki, punggung atas dan bahu. Bercak ini biasanya memudar pada tahun pertama walaupun sering juga menetap hingga dewasa.

3. Bercak café au lait


Bintik berwarna cokelat muda atau tua seperti kopi susu. Bentuknya tidak teratur, mendatar pada kulit dengan ukuran sekitar 3-5 mm. Lokasinya bisa terdapat di seluruh tubuh. Bila hanya satu bercak, umumnya tidak memerlukan penanganan khusus. Yang patut diwaspadai jika terdapat 5 atau lebih tanda lahir ini dengan diameter lebih dari 5 mm. Segera konsultasikan pada dokter karena kehadirannya bisa menjadi pertanda suatu penyakit genetik.

4. Nevus congenital


Berupa tahi lalat di kepala atau di bagian badan yang muncul semenjak lahir. Ukurannya paling kecil sekitar 1 cm hingga lebih dari 20 cm. Berwarna kecokelatan sampai hitam dan sebagian ada yang berambut. Bila semakin membesar patut diwaspadai sebagai pertanda awal keganasan. Untuk itu segera konsultasikan pada dokter.

5. Port wine stain


Ini adalah bentuk umum tanda lahir. Noda biasanya berwarna merah atau warna ungu. Hal ini dapat muncul di wajah, punggung atau dada. Tanda lahir jenis ini disebabkan oleh kekurangan atau tidak adanya pasokan saraf dalam pembuluh darah. Hal ini menyebabkan pembuluh darah melebar dan darah berkumpul di salah satu area yang tidak rata oleh penyebaran pembuluh darah dalam tubuh. Tanda jenis ini bisa menjadi tebal atau sedikit menonjol dan tidak memudar dengan usia. Tanda ini bersifat permanen.

6. Pigmented Nevi (Moles)


Moles bisa muncul ketika sel dalam kulit tumbuh secara berkelompok dan bukannya menyebar di seluruh kulit. Moles dapat muncul di mana saja dalam tubuh, satu atau berkelompok. Moles biasanya berwarna seperti kulit, coklat, atau hitam. Tanda ini bisa bertambah gelap apabila terkena sinar matahari dan selama masa kehamilan. Warnanya bisa bertambah pudar saat dewasa dan mungkin hilang di usia tua. Sebagian besar moles tidak berbahaya. Tetapi, moles bisa berisiko berubah menjadi kanker kulit. Moles seharusnya diperiksa ke dokter jika:

  • Berubah ukuran atau bentuk
  • Terlihat berbeda dari moles lainnya.
  • Setelah berusia 20 tahun

Yang Perlu Diperhatikan
Bila pada anak terdapat dalam jumlah 5 atau lebih dan berdiameter lebih dari 5 mm bercak ini biasanya berhubungan dengan suatu kelainan sistemik yang dikenal dengan neurofibromatosis Von-Recklinghausen. Pada usia yang lebih besar, bercak multipel berukuran 1-4 cm pada ketiak merupakan tanda diagnostik untuk kelainan ini. Bila dicurigai berhubungan dengan kelainan ini, bercak ini perlu dibuang dengan menggunakan laser dengan teknik Q-switched selama satu hingga beberapa kali terapi.

Dari sebagian jenis-jenis tanda lahir yang disebutkan diatas, memang tak semuanya berpotensi menjadi ganas. Karena itu tetap perlu adanya observasi pada kelainan bentuk yang terjadi meskipun pada kenyataannya tak banyak tanda lahir yang atau terlambat mendapat penanganan tepat. Dengan mencermati kelainan yang muncul sejak pemeriksaan rutin bayi, maka beberapa bentuk tanda lahir yang berbahaya tadi diharapkan bisa dicegah dengan penanganan yang benar.

pengertian infeksi


BAB I

PENDAHULUAN

Definisi

Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. Secara umum, pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit, dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial 1,2,3,4
Infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto infection, sementara infeksi eksogen (cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya.

Rumah Sakit

Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh. Tetapi, rumah sakit selain untuk mencari kesembuhan, juga merupakan depot bagi berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung yang berstatus karier. Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit, seperti; udara, air, lantai, makanan dan benda-benda medis maupun non medis. Terjadinya infeksi nosokomial akan menimbulkan, antaralain:

· Lama hari perawatan bertambah

· Panjang penderitaan bertambah

· Biaya meningkat

Dari hasil studi deskriptif Suwarni, di semua rumah sakit di Yogyakarta tahun 1999 menunjukkan bahwa proporsi kejadian infeksi nosokomial berkisar antara 0,0% hingga 12,06%, dengan rata-rata keseluruhan 4,26%. Untuk rerata lama perawatan berkisar antara 4,3 – 11,2 hari, dengan rata-rata keseluruhan 6,7 hari. Setelah diteliti lebih lanjut maka didapatkan bahwa angka kuman lantai ruang perawatan mempunyai hubungan bermakna dengan infeksi nosokomial.8
Selama 10-20 tahun belakang ini telah banyak perkembangan yang telah dibuat untuk mencari masalah utama terhadap meningkatnya angka kejadian infeksi nosokomial di banyak negara, dan dibeberapa negara, kondisinya justru sangat memprihatinkan. Keadaan ini justru memperlama waktu perawatan dan perubahan pengobatan dengan obat-obatan mahal, serta penggunaan jasa di luar rumah sakit. Karena itulah, dinegara-negara miskin dan berkembang, pencegahan infeksi nosokomial lebih diutamakan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan pasien dirumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

Di beberapa bagian, terutama di bagian penyakit dalam, terdapat banyak prosedur dan tindakan yang dilakukan baik untuk membantu diagnosa maupun memonitor perjalanan penyakit dan terapi yang dapat menyebabkan pasien cukup rentan terkena infeksi nosokomial. Pasien dengan umur tua, berbaring lama, atau beberapa tindakan seperti prosedur diagnostik invasif, infus yang lama dan kateter urin yang lama, atau pasien dengan penyakit tertentu yaitu penyakit yang memerlukan kemoterapi, dengan penyakit yang sangat parah, penyakit keganasan, diabetes, anemia, penyakit autoimun dan penggunaan imuno supresan atau steroid didapatkan bahwa resiko terkena infeksi lebih besar.Sumber penularan dan cara penularan terutama melalui tangan dan dari petugas kesehatan maupun personil kesehatan lainnya, jarum injeksi, kateter iv, kateter urin, kasa pembalut atau perban, dan cara yang keliru dalam menangani luka. Infeksi nosokomial ini pun tidak hanya mengenai pasien saja, tetapi juga dapat mengenai seluruh personil rumah sakit yang berhubungan langsung dengan pasien maupun penunggu dan para pengunjung pasien.

 

 

 

Epidemiologi

Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di Negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama. Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10,0%.3.Walaupun ilmu pengetahuan dan penelitian tentang mikrobiologi meningkat pesat pada 3 dekade terakhir dan sedikit demi sedikit resiko infeksi dapat dicegah, tetapi semakin meningkatnya pasien-pasien dengan penyakit immunocompromised, bakteri yang resisten antibiotik, super infeksi virus dan jamur, dan prosedur invasif, masih menyebabkan infeksi nosokomial menimbulkan kematian sebanyak 88.000 kasus setiap tahunnya walaupun.4
Selain itu, jika kita bandingkan kuman yang ada di masyarakat, mikroorganisme yang berada di rumah sakit lebih berbahaya dan lebih resisten terhadap obat, karena itu diperlukan antibiotik yang lebih poten atau suatu kombinasi antibiotik. Semua kondisi ini dapat meningkatkan resiko infeksi kepada si pasien.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
ISI

Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. Secara umum, pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit, dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial 1,2,3,4
Infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto infection, sementara infeksi eksogen (cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya.

Macam-Macam Faktor Penyebab Perkembangan Infeksi Nosokomial

Yaitu :

A. Agen yang menginfeksi

Pasien akan terpapar berbagai macam mikroorganisme selama ia dirawat di rumah sakit. Kontak antara pasien dan berbagai macam mikroorganisme ini tidak selalu menimbulkan gejala klinis karena banyaknya faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial. Kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada 3 yaitu:

§ Karakteristik mikroorganisme,

§ Resistensi terhadap zat-zat antibiotika,

§ Tingkatvirulensi,dan banyaknya materi infeksius.

Semua mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection). Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena faktor eksternal, yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan dan udara dan benda atau bahan-bahan yang tidak steril. Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal.

Agen yang menginfeksi antara lain:

1) Bakteri

Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat. Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen. Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah terhadap mikroorganisme. Contohnya Escherichia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih.
Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi baik secara sporadik maupun endemik.Contohnya:

§ Anaerobik Gram-positif, Clostridium yang dapat menyebabkan gangren

§ Bakteri gram-positif: Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru, pulang, jantung dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika.

§ Bakteri gram negatif: Enterobacteriacae, contohnya Escherichia coli, Proteus, Klebsiella, Enterobacter. Pseudomonas sering sekali ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan dan pasien yang dirawat. Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit.

§ Serratia marcescens, dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan, paru, dan peritoneum.

 

 

2) Virus

Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam virus, termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari transfusi, dialisis, suntikan dan endoskopi. Respiratory syncytial virus (RSV), rotavirus, dan enteroviruses yang ditularkan dari kontak tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik, dan transfusi darah. Rute penularan untuk virus sama seperti mikroorganisme lainnya. Infeksi gastrointestinal, infeksi traktus respiratorius, penyakit kulit dan dari darah. Virus lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus, Ebola, influenza virus, herpes simplex virus, dan varicella-zoster virus, juga dapat ditularkan.3,11

3) Parasit dan Jamur

Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat menular dengan mudah ke orang dewasa maupun anak-anak. Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan obat immunosupresan, contohnya infeksi dari Candida albicans, Aspergillus spp, Cryptococcus neoformans, Cryptosporidium.

B. Respon dan toleransi tubuh pasien

Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon tubuh pasien dalam hal ini adalah:

o Umur

o Status imunitas penderita

o Penyakit yang diderita

o Obesitas dan malnutrisi Orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid

o Intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi.

Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi kondisi ini lebih diperberat bila penderita menderita penyakit kronis seperti tumor, anemia, leukemia, diabetes mellitus, gagal ginjal, SLE dan AIDS. Keadaan-keadaan ini akan meningkatkan toleransi tubuh terhadap infeksi dari kuman yang semula bersifat opportunistik. Obat-obatan yang bersifat immunosupresif dapat menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi. Banyaknya prosedur pemeriksaan penunjang dan terapi seperti biopsi, endoskopi, kateterisasi, intubasi dan tindakan pembedahan juga meningkatkan resiko infeksi. Resiko infeksi TipepasienMinimal Tidak immunocompromised, tidak ditemukan terpapar suatu penyakit. Sedang Pasien yang terinfeksi dan dengan beberapa factor resiko. Berat pasien dengan immunocompromised berat, (5 µm. Contohnya bacterial meningitis, dan diphtheria memerlukan hal sebagai berikut; Ruangan tersendiri untuk tiap pasiennya. Masker untuk petugas kesehatan. Pembatasan area bagi pasien; pasien harus memakai masker jika meninggalkan ruangan.

Infeksi yang terjadi karena kontak secara langsung atau tidak langsung dengan penyebab infeksi. Penularan infeksi ini dapat melalui tangan, kulit dan baju, seperti golongan staphylococcus aureus. Dapat juga melalui cairan yang diberikan intravena dan jarum suntik, hepatitis dan HIV. Peralatan dan instrumen kedokteran. Makanan yang tidak steril, tidak dimasak dan diambil menggunakan tangan yang menyebabkan terjadinya cross infection.

C. Resistensi Antibiotika

Seiring dengan penemuan dan penggunaan antibiotika penicillin antara tahun 1950-1970, banyak penyakit yang serius dan fatal ketika itu dapat diterapi dan disembuhkan. Bagaimana pun juga, keberhasilan ini menyebabkan penggunaan berlebihan dan pengunsalahan dari antibiotika. Banyak mikroorganisme yang kini menjadi lebih resisten. Meningkatnya resistensi bakteri dapat meningkatkan angka mortalitas terutama terhadap pasien yang immunocompromised. Resitensi dari bakteri di transmisikan antar pasien dan faktor resistensinya di pindahkan antara bakteri. Penggunaan antibiotika yang terus-menerus ini justru meningkatkan multipikasi dan penyebaran strain yang resistan. Penyebab utamanya karena:

1. Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol

2. Dosis antibiotika yang tidak optimal

3. Terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat

4. Kesalahan diagnosa

Banyaknya pasien yang mendapat obat antibiotika dan perubahan dari gen yang resisten terhadap antibiotika, mengakibatkan timbulnya multiresistensi kuman terhadap obat obatan tersebut. Penggunaan antibiotika secara besar-besaran untuk terapi dan profilaksis adalah faktor utama terjadinya resistensi. Banyakstrainsdaripneumococci,staphylococci, enterococci, dan tuberculosis telah resisten terhadap banyak antibiotikaa, begitu juga klebsiella dan pseudomonas aeruginosa juga telah bersifat multiresisten. Keadaan ini sangat nyata terjadi terutama di negara-negara berkembang dimana antibiotika lini kedua belum ada atau tidak tersedia.Infeksi nosokomial sangat mempengaruhi angka morbiditas dan mortalitas di rumah sakit, dan menjadi sangat penting karena:

a. Meningkatnya jumlah penderita yang dirawat

b. Seringnya imunitas tubuh melemah karena sakit, pengobatan atau umur

c. Mikororganisme yang baru (mutasi)

d. Meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotika

D. Faktor alat

Dari suatu penelitian klinis, infeksi nosokomial tertama disebabkan infeksi dari kateter urin, infeksi jarum infus, infeksi saluran nafas, infeksi kulit, infeksi dari luka operasi dan septikemia. Pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti. Diruang penyakit dalam, diperkirakan 20-25% pasien memerlukan terapi infus. Komplikasi kanulasi intravena ini dapat berupa gangguan mekanis, fisis dan kimiawi.

Komplikasi tersebut berupa:

Ø Ekstravasasi infiltrat : cairan infus masuk ke jaringan sekitar insersi

Ø kanulaPenyumbatan : Infus tidak berfungsi sebagaimana mestinya tanpa dapat dideteksi adanyangangguan lain

Ø Flebitis : Terdapat pembengkakan, kemerahan dan nyeri sepanjang vena

Ø Trombosis : Terdapat pembengkakan di sepanjang pembuluh vena yang menghambat aliran infuse

Ø Kolonisasi kanul : Bila sudah dapat dibiakkan mikroorganisme dari bagian kanula yang ada dalam pembuluh darah

Ø Septikemia: Bila kuman menyebar hematogen dari kanul

Ø Supurasi : Bila telah terjadi bentukan pus di sekitar insersi kanul

Beberapa faktor dibawah ini berperan dalam meningkatkan komplikasi kanula intravena yaitu:

Ø jenis kateter,

Ø ukuran kateter,

Ø pemasangan melalui venaseksi,

Ø kateter yang terpasang lebih dari 72 jam,

Ø kateter yang dipasang pada tungkai bawah, tidak mengindahkan pronsip anti sepsis,

Ø cairan infus yang hipertonik dan darah transfusi karena merupakan media pertumbuhan mikroorganisme,

Ø peralatan tambahan pada tempat infus untuk pengaturan tetes obat,

Ø manipulasi terlalu sering pada kanula. Kolonisasi kuman pada ujung kateter merupakan awal infeksi tempat infus dan bakteremia

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi nosokomial

v Infeksi saluran kemih

Infeksi ini merupakan kejadian tersering, sekitar 40% dari infeksi nosokomial, 80% infeksinya dihubungkan dengan penggunaan kateter urin. Walaupun tidak terlalu berbahaya, tetapi dapat menyebabkan terjadinya bakteremia dan mengakibatkan kematian. Organisme yang biaa menginfeksi biasanya E.Coli, Klebsiella, Proteus, Pseudomonas, atau Enterococcus. Infeksi yang terjadi lebih awal lebih disebabkan karena mikroorganisme endogen, sedangkan infeksi yang terjadi setelah beberapa waktu yang lama biasanya karena mikroorganisme eksogen.

Penyebaran penyakit melalui jarum suntik maka diperlukan:

1. Pengurangan penyuntikan yang kurang diperlukan

2. Pergunakan jarum steril

3. Penggunaan alat suntik yang disposabel.

Masker, sebagai pelindung terhadap penyakit yang ditularkan melalui udara. Begitupun dengan pasien yang menderita infeksi saluran nafas, mereka harus menggunakan masker saat keluar dari kamar penderita. Sarung tangan, sebaiknya digunakan terutama ketika menyentuh darah, cairan tubuh, feses maupun urine. Sarung tangan harus selalu diganti untuk tiap pasiennya. Setelah membalut luka atau terkena benda yang kotor, sarung tangan harus segera diganti.Baju khusus juga harus dipakai untuk melindungi kulit dan pakaian selama kita melakukan suatu tindakan untuk mencegah penularan infeksi dari percikan darah, cairan tubuh, urin dan feses.

Pencegahan penularan infeksi

1. Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu, minyak dan kotoran. Perlu diingat bahwa sekitar 90 persen dari kotoran yang terlihat pasti mengandung kuman. Harus ada waktu yang teratur untuk membersihkan dinding, lantai, tempat tidur, pintu, jendela, tirai, kamar mandi, dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali. Pengaturan udara yang baik sukar dilakukan di banyak fasilitas kesehatan. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara, terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. Kamar dengan pengaturan udara yang baik akan lebih banyak menurunkan resiko terjadinya penularan tuberkulosis. Selain itu, rumah sakit harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri. Sterilisasi air pada rumah sakit dengan prasarana yang terbatas dapat menggunakan panas matahari.Toilet rumah sakit juga harus dijaga, terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi antara pasien. Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi disinfektan. Disinfektan akan membunuh kuman dan mencegah penularan antara pasien.Disinfeksi yang dipakai adalah:

a. Mempunyai kriteria membunuh kuman

b. Mempunyai efek sebagai detergen

c. Mempunyai efek terhadap banyak bakteri, dapat melarutkan minyak dan protein.

d. Tidak sulit digunakan

e. Tidak mudah menguap

f. Bukan bahan yang mengandung zat yang berbahaya baik untuk petugas maupun pasien

g. Efektif

h. Tidak berbau, atau tidak berbau tak enak

2. Perbaiki ketahanan tubuh

Di dalam tubuh manusia, selain ada bakteri yang patogen oportunis, ada pula bakteri yang secara mutualistik yang ikut membantu dalam proses fisiologis tubuh, dan membantu ketahanan tubuh melawan invasi jasad renik patogen serta menjaga keseimbangan di antara populasi jasad renik komensal pada umumnya, misalnya seperti apa yang terjadi di dalam saluran cerna manusia. Pengetahuan tentang mekanisme ketahanan tubuh orang sehat yang dapat mengendalikan jasad renik oportunis perlu diidentifikasi secara tuntas, sehingga dapat dipakai dalam mempertahankan ketahanan tubuh tersebut pada penderita penyakit berat. Dengan demikian bahaya infeksi dengan bakteri oportunis pada penderita penyakit berat dapat diatasi tanpa harus menggunakan antibiotika.

3. Ruangan Isolasi

Penyebaran dari infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan membuat suatu pemisahan pasien. Ruang isolasi sangat diperlukan terutama untuk penyakit yang penularannya melalui udara, contohnya tuberkulosis, dan SARS, yang mengakibatkan kontaminasi berat. Penularan yang melibatkan virus, contohnya DHF dan HIV. Biasanya, pasien yang mempunyai resistensi rendah eperti leukimia dan pengguna obat immunosupresan juga perlu diisolasi agar terhindar dari infeksi. Tetapi menjaga kebersihan tangan dan makanan, peralatan kesehatan di dalam ruang isolasi juga sangat penting. Ruang isolasi ini harus selalu tertutup dengan ventilasi udara selalu menuju keluar. Sebaiknya satu pasien berada dalam satu ruang isolasi, tetapi bila sedang terjadi kejadian luar biasa dan penderita melebihi kapasitas, beberapa pasien dalam satu ruangan tidaklah apa-apa selama mereka menderita penyakit yang sama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

v Faktor- faktor yang menyebabkan perkembangan infeksi nosokomial tergantung dari agen yang menginfeksi, respon dan toleransi tubuh, faktor lingkungan, resistensi antibiotika, dan faktor alat.

v Agen Infeksi yang kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada: karakteristik mikroorganisme, resistensi terhadap zat-zat antibiotika, tingkat virulensi, dan banyaknya materi infeksius. Respon dan toleransi tubuh pasien dipengaruhi oleh: Umur, status imunitas penderita, penyakit yang diderita, obesitas dan malnutrisi, orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid, intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi. Faktor lingkungan dipengaruhi oleh padatnya kondisi rumah sakit, banyaknya pasien yang keluar masuk, penggabungan kamar pasien yang terkena infeksi dengan pengguna obat-obat immunosupresan, kontaminasi benda, alat, dan materi yang sering digunakan tidak hanya pada satu orang pasien. Resistensi Antibiotika disebabkan karena: Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol, dosis antibiotika yang tidak optimal, terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat, dan kesalahan diagnosa. Faktor alat, dipengaruhi oleh pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti.

v Macam penyakit yang disebabkan oleh infeksi nosokomial, misalnya Infeksi saluran kemih. Infeksi ini merupakan kejadian tersering, dihubungkan dengan penggunaan kateter urin. Nosokomial pneumonia, terutama karena pemakaian ventilator, tindakan trakeostomy, intubasi, pemasangan NGT, dan terapi inhalasi. Nosokomial bakteremi yang memiliki resiko kematian yang sangat tinggi.

v Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit terutama dari dinding, lantai, tempat tidur, pintu, jendela, tirai, kamar mandi, dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali.

 

DAFTAR PUSTAKA

Olmsted RN. APIC Infection Control and Applied Epidemiology: Principles and Practice.

St.LouisMosby:1996.

Pohan, HT. Current Diagnosis and Treatment in Internal Medicine. Pusat Informasi dan

Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta;2004.

Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI, Jakarta; 2001.

Surono,A.RedaksiIntisari.agussur@hotmail.com.

Wenzel. Infection control in the hospital,in International society for infectious diseases,

second ed, Boston; 2002

 

 

 

 

 

 

 

infeksi


Sepsis Neonatorum
DEFINISI
Sepsis Neonatorum adalah suatu infeksi bakteri berat yang menyebar ke seluruh tubuh bayi baru lahir.

Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab dari 30% kematian pada bayi baru lahir.
Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki.

Pada lebih dari 50% kasus, sepsis mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi lahir, tetapi kebanyakan muncul dalamw aktu 72 jam setelah lahir.
Sepsis yang baru timbul dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan oleh infeksi nasokomial (infeksi yang didapat di rumah sakit).

PENYEBAB
Penyebabnya biasanya adalah infeksi bakteri.

Resiko terjadinya sepsis meningkat pada:
– Ketuban pecah sebelum waktunya
– Perdarahan atau infeksi pada ibu.

GEJALA
Bayi tampak lesu, tidak kuat menghisap, denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik.
Gejala lainnya adalah:
– gangguan pernafasan
– kejang
jaundice (sakit kuning)
– muntah
– diare
– perut kembung.

Gejalanya tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya:

  • Infeksi pada tali pusar (omfalitis) bisa menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari pusar
  • Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak bisa menyebabkan koma, kejang, opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun
  • Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena
  • Infeksi pada persendian bisa menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat
  • Infeksi pada selaput perut (peritonitis) bisa menyebabkan pembengkakan perut dan diare berdarah.
  • DIAGNOSA
    Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

    Organsisme penyebab terjadinya infeksi bisa diketahui dengan melakukan pemeriksaan mikroskopis maupun pembiakan terhadap contoh darah, air kemih maupun cairan dari telinga dan lambung.
    Jika diduga suatu meningitis, maka dilakukan pungsi lumbal.

    PENGOBATAN
    Antibiotik diberikan melalui infus.
    Pada kasus tertentu, mungkin perlu diberikan antibodi yang dimurnikan atau sel darah putih.

    PROGNOSIS

    25% bayi meninggal meskipun telah diberikan antibiotik dan perawatan intensif.
    Angka kematian pada bayi prematur yang kecil adalah 2 kali lebih besar.

    %d bloggers like this: